Bolehkah Burung Gereja melakukan Poliandri ?

Tahukah kalian bahwa poliandri yang tidak ada ada kehidupan manusia, tetapi ada pada kehidupan hewan ? Tahukah kalian bahwa persaingan dunia perkawinan dalam burung gereja sangat sulit ? Meskipun burung tersebut sering kita jumpai di daerah perkotaan.

Burung.jpg

Salah satu ciri makhluk hidup yaitu berkembang biak. Aktivitas berkembang biak berhubungan sangat menentukan kelestarian hidup hewan. Sebagaian besar hewan mungkin tidak memiliki perilaku sadar pentingnya reproduksi dan mereka tidak memiliki ketertarikan terus menerus terhadap anggota lawan jenisnya. Ini yang membedakan hewan dengan manusia yang dapat ‘sadar jatuh cinta’ sesering mungkin. Dalam kehidupan hewan, seringkali timbul kecendrungan untuk menganggap bahwa individu dari spesies yang sama sebagai pesaing yang mengancam.

Burung gereja memiliki ciri-ciri antara lain berukuran kecil dan gemuk, warna bulu cokelat-kelabu, berekor pendek, dan memiliki paruh kuat yang digunakan untuk memakan biji-bijian. Ukuran tubuh burung gereja kurang lebih 2,5—4 cm.

Saat masa kawin, burung gereja akan membuat sarang dan memamerkan kepada sang betina. Lalu, si jantan bercicit di sekitar sang betina untuk menarik perhatiannya. Ia bercicit sambil menari unik dengan membuka sayap. Namun, tidak semua betina menyukai tarian tersebut, terkadang akan timbul perkelahian antar keduanya jika sang betina tidak ingin diganggu. Mungkin lagi PMS ya betinyanya hehehe…

Picture1.jpg

Tidak hanya pada kita nih kawan, cinta segitiga juga terjadi pada burung gereja. Dua pejantan akan memperebutkana satu betina, sang betina akan memilih dari segi sarang manakah yang lebih bagus. Wah, seperti manusia perempuan ya sang betinanya, selektif sekali :). Setelah merasa cocok, kedua pasangan akan terbang menuju dahan pohon. Si jantan akan mengembangkan sayapnya dan bercicit sebelum melakukan perkawinan.

Nah, betina juga dapat menerima dua pasangan jantan, maka tidak heran jika dalam satu sarang terdapat dua pejantan (playgril nih burungnya hehehe). Saat disarang, sang betina lebih agresif menjaga pejantannya dari betina lain yang mengancam. Perilaku antagonis tersebut terhadap penyusup dapat berfungsi sebagai kualitas pasangan selama periode kawin. Hal tersebut dilakukan karena adanya keunikan pada sistem pertahanan di kalangan burung gereja. Betina A akan  mencari sarang betina B yang sudah dikawini oleh pejantan. Betina A akan membunuh anak dari betina B untuk menghilangkan persaingan di masa mendatang. Wah kejam seklai yaaaa huhuhu…

Betina lebih sering berkelahi fisik dengan betina lain dibandingkan si jantan. Perilaku agresif tersebut membuat sang betina memonopoli si jantan. Perilaku teritorial pada betina burung gereja, menambah keragaman perilaku perkawinan pada dunia burung.

Begitulah kawan bagaimana kehidpuan burung gereja saat perkawinan. Kurang lebih sama ya seperti manusia, namun berbenda dalam segi poliandrinya hahaha

Sumber :

Jan Pinowski, Barbara Pinowska, Jerzy Romanowski &
Radovan Václav. 2015. Post-breeding aggressive territorial behaviour in Eurasian Tree
Sparrows (Passer montanus): territory or mate defence?. Tichodroma 27: 2–10

Advertisements
By rizkyryzal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s